Capung menghabiskan sebagian besar hidupnya di dekat perairan, bahkan pada fase pra-dewasanya atau pada saat fase telur dan nimfa capung berada di dalam air, oleh sebab itu capung dikenal sebagai salah satu bio-indicator kualitas air di suatu wilayah, menurut IDS (2013) semakin baik kualita air di suatu perairan iasanya beriringan dengan semakin banyaknya jenis dan jumlah capung di daerah tersebut, hal ini dikarenakan nimfa capung yang diletakkan di dalam air sangat sensitif terhadap pencemaran air. Capung biasanya dapat berkembang biak dengan baik di wilayah perairan yang cukup tenang dan air yang jernih dangan intensitas cahaya sedang.
![]() |
| Brachythemis Contaminata (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
Dengan peranannya sebagai bio-indicator bagi lingkungan yang sehat, capung sebenarnya sedang dalam ancaman serius dikarenakan degradasi lingkungan yang terjadi belakangan ini, banyak sekali daerah aliran sungai (DAS) yang mulai buruk kondisinya, dikarenakan pencemaran lingkungan oleh limbah dan mulai hilangnya hutan penyerap air yang sebenarnya sangat penting bagi ketersedian air bersih di daerah sekitar sungai. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2019), tercatat indonesia memiliki 458 DAS di mana 108 DAS di antaranya dinyatakan kritis.
![]() |
| DAS Lusi Kab. Blora (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar